Weekly post

  • 0 komentar

  • KONSEP VIRUS DAN PENYAKIT DALAM AL-QURAN


    Siti Nur Muthi’ah Suronoto
    muthiahsuronoto@gmail.com

    Abstrak
    Artikel ini membahas tentang konsep virus dan penyakit yang diuraikan dalam al-Quran, apakah merupakan suatu yang terjadi begitu saja sebagai sebuah ketentuan Allah, ataukah sebagai akibat dari pelanggaran terhadap hukum Allah. Dengan menggunakan metode Tafsir maudhu’I dengan corak ilmi, Diketahui bahwa awalnya virus dan penyakit yang dipahami sebagai azab Allah, ternyata berdasarkan penafsiran lebih sebagai kejadian biasa akibat penyebaran virus yang tidak ditangani dengan baik. Dan merupakan sebuah jasa besar bagi umat Islam, khususnya, dan masyarakat dunia, pada umumnya. Selanjutnya, penemuan tersebut seakan-akan menjadi insirator bagi temuan-temuan berikutnya.
    Kata Kunci : virus, penyakit, al-Quran




    PENDAHULUAN
    Pada zaman dahulu, penyakit sering diidentikkan dengan gangguan  makhluk  halus  (jin,  syetan)  atau  ia  bahkan  dianggap sebagai  kutukan  Tuhan atas  diri  seseorang,  terlebih lagi  terhadap penyakit   menular.   Konon,   ketika   seseorang   terkena   penyakit menular, maka ia akan dikeluarkan dari komunitas masyarakatnya (diasingkan) bahkan apa saja yang berhubungan dengannya harus dipisahkan  dari  orang-orang  yang  sehat.  Asumsi  semacam  inilah yang mengakibatkan banyak terjangkit penyakit di beberapa negara tanpa bisa berbuat apa-apa. (Hakim)
    Salah seorang tokoh yang dianggap paling berjasa menemukan sebab-sebab penularan suatu penyakit, yang tidak semata-mata didasarkan atas sebuah asumsi yang bersifat magis, adalah Ibn al- Khatib, seorang sarjana kedokteran dari Spanyol, yang hidup pada masa abad pertengahan, sekaligus juga seorang pengarang yang terkenal. Pada mulanya, ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana keganasan virus penyakit pes yang telah banyak merenggut jiwa manusia. (Ramli)
    PEMBAHASAN
    Ayat al-Qur’an dan Terjemahan
    Di dalam Alquran, ada beberapa ayat yang dapat diidentifikasi sebagai wabah penyakit  antara lain Virus Sampar, Lintah Air, dan virus cacar.
    Virus Sampar (pestis haemorrhagica). Sebagaimana yang bisa dibaca pada kisah nabi Shaleh dan kaum Tsamud. Firman Allah:

    ((((((((((( (((((((( ((((((( (((( (((((( ((((((( (((((((((( (((((((( (((( (((((( (((( (((( (((((((((( (((((((( (((((((((((((( ((((((( ((((((( ((((   (((((((((((( ((((((( ((((((((((( ((( ((((((((( ((((((((( ((((((( ( ((((((( (((((( (((((( ((((((((( ((((   ((((((( (((((( ((((((((( ((((((((( (((((((( ((((((((((( (((((((((( ((((((( (((((((((( (((((( (((((( (((((( (((((((((( ( (((( (((((( (((( (((((((((( ((((((((((( ((((   (((((((( ((((((((( ((((((((( ((((((((((( ((((((((((((( ((( ((((((((((( (((((((((( ((((   ((((( (((( (((((((((( ((((((( ( (((( (((( ((((((((( ((((((((( (((((((( ( (((( ((((((( (((((((((( ((((   
    Hai kaumku, Inilah unta betina dari Allah, sebagai mukjizat (yang menunjukkan kebenaran) untukmu, sebab itu biarkanlah Dia Makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apapun yang akan menyebabkan kamu ditimpa azab yang dekat." mereka membunuh unta itu, Maka berkata Shaleh: "Bersukarialah kamu sekalian di rumahmu selama tiga hari, itu adalah janji yang tidak dapat didustakan." Maka tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Shaleh beserta orang-orang yang beriman bersama Dia dengan rahmat dari Kami dan dari kehinaan di hari itu. Sesungguhnya Tuhanmu Dia-lah yang Maha kuat lagi Maha Perkasa. dan satu suara keras yang mengguntur menimpa orang-orang yang zalim itu, lalu mereka mati bergelimpangan di rumahnya, seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, Sesungguhnya kaum Tsamud mengingkari Tuhan mereka. Ingatlah, kebinasaanlah bagi kaum Tsamud.

    Analisis Mufradat
    (((((((( : hai kaumku (((((((: keburukan
    (((( : rumah ((((((: azab
    (((((( : unta betina (((((((: menimpa
    (((((( : hari (((((( : yg dekat
    ((((((( : ayat/tanda (((((( : menusuk
    ((((( : janji (((((((( : didustakan
    (((((((((( : maka biarkanlah ia ((((( : datang
    ((((((((: makan ((((((((((( : bersuka rialah kalian
    ((((((((((: kalian menganggunya ((((((((( : kami selamatkan
    (((((((( : saleh ((((((: kehinaan
    (((((((((( : pada hari itu (((((((((((: maha perkasa
    ((((((((( : maha kuat ((((((((: (mereka) zalim
    ((((((((((: teriakan/suara keras (((((((((( : lalu jadilah mereka
    (((((((((( : rumah-rumah mereka (((((((( : tsamud
    (((((((((: mati bergelimpangan ((((((((( : mereka berdiam (
    (((((((( : mereka mengafiri ((((((( : jauh/kebinasaan (
    Ayat  di  atas  mengisahkan  tentang  perjalanan  dakwah  nabi Shaleh dan kaum Tsamud. Kisah nabi Shaleh dan kaum Tsamud disebut dalam al-Qur‟an di  sepuluh tempat,  yang  semuanya  turun pada periode Mekkah, yaitu asy-Syams 91: 11-14, al-Qamar54: 23-31, al-A‟râf 7: 73-79, asy-Syu‟arâ‟26: 141-158, al-Isrâ‟17:  59, Hûd11: 61-68, al-Hijr15: 80-83, Fushshilât 41: 17, dan an-Naml 27: 45-53.
    Silsilah nabi Shaleh adalah Shaleh bin `Abid bin Asif. Nasabnya berakhir sampai Sam bin Nuh. Sementara asal muasal suku beliau, Tsamud, diperselisihkan di kalangan ahli sejarah. Di antaranya ada yang mengatakan bahwa kaum Tsamud adalah satu keturunan dengan kaum `Ad. Yang lain mengatakan bahwa kaum Tsamud adalah sisa dari kabilah ‘Amâliqah yang hijrah ke suatu tempat yang dikenal dengan Hijr. Adapun pendapat yang lebih kuat, menurut al- Shabuni,  bahwa  kaum  Tsamud  adalah  bangsa  Arab  yang  lahir setelah `Ad.
    Istilah Tsamūd sendiri terambil dari nama salah seorang nenek moyang mereka yang juga masih keturunan nabi Nuh a.s., yaitu Tsamūd bin Atsir  bin Iram  bin Nuh. (Al-Zuhaili)  Ada yang mengatakan bahwa kata Tsamud diambil dari nama Tsamu Bin Atsir, yaitu keturunan dari Sam bin Nuh. Mereka tinggal di Hijr– dikenal dengan  Madain Shalih    (kota-kota    Shaleh)    –terletak    antara    Hijaz    dan    Syam, memanjang sampai ke lembah al-Qura.
    Dikisahkan, pada mulanya, mereka meminta nabi Sholeh agar bisa mengeluarkan anak unta dari sebuah batu, sebagai bukti kerasulanya; dan atas izin Allah, permintaan itu dapat dikabulkan. Unta tersebut menjadi tanda kemukjizatan Shaleh a.s. Hal ini bisa dilihat  melalui  redaksi  yang  digunakan  Al-Qur‟an; ناقة الله لكم أية.
    Menurut al-Qasimi, penyandaran tersebut bersifat majazi. Artinya, tidak ada yang berhak memiliki unta tersebut, termasuk Shaleh a.s. Bisa juga dikatakan bahwa keberadaan unta itu sebagai tanda kebesaran dan kekuasaan Allah. Unta tersebut terlahir dari permintaan mereka kepada Shaleh. Jadi, eksistensi mereka sangat ditentukan oleh sikapnya terhadap unta mu`jizat tersebut. 
    Sementara menurut Sayyid Quthb, (Quthb) redaksi tersebut menunjukkan bahwa unta tersebut bukanlah unta sembarangan. Unta tersebut pasti memiliki keistimewaan. Namun Quthb mengingatkan, tidak selayaknya seorang muslim terjebak dalam perdebatan tentang hakekat unta ini.

    Hadis Terkait
    Berkaitan dengan penyakit menular tersebut, Islam sangat memberikan perhatian terutama begaimana mencari solusi yang tepat agar si pengidap tidak terisolir dari komunitasnya. Dalam beberapa hadis memang banyak dijumpai tindakan apa yang dilakukan oleh Nabi Saw terhadap para pengidap penyakit menular. Dalam beberapa hadis, Nabi Saw, memerinthkan agar menghindar darinya. Misalnya:
    و فر من المجذوم كما تفر من الاسد (رواه البخارى)
    Hindarilah orang yang berpernyakit kusta seperti kamu menghindar dari seekor singa (H.R al-Bukhari)
    إذا سمعتم بالطاعون فى أرض فلا تدخلوها وإذا وقع بارض وأنتم بها فلا تخرجوا منها (رواه البخارى)
    Apabila kamu mendengar ada wabah penyakit di suatu negeri maka janganlah kamu memasukinya; dan apabila (wabah itu) berjangkit sedangkan kamu berada di dalam negeri itu, maka janganlah kamu keluar melarikan diri. (H.R. al-Bukhari)
    Sementara dalam hadis yang lain dinyatakan sebagai berikut:
    وعن عائشة زوج النبى صلى الله عليه وسلم عن أنها اخبرته انها سالت رسول الله صلى الله عليه وسلم عن الطاعون فأخبرها النبي انه كان عذابا يبعثه الله على من يشاء, فيجعله رحمة للمؤمنين فليس من عبد يقع الطاعون قيمكث فى بلده صابرا يعلم انه لن يصيبه الا ما كتب الله له الا كان له مثل اجر الشهيد (رواه البخارى)
    ‘aisyah bertanya kepada Rasulullah Saw. Tentang penyakit sampar (tha’un), maka beliau menjawab: “sungguhnya penyakit tha’un adalah azab Allah yang diturunkan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya dan menjadikan wabah penyakit itu sebagai rahmat bagi orang yang beriman. Sebab barangsiapa yang tetap tinggal di dalamnya dengan sabar dan berkeyakinan bahwa suatu penyakit tidak akan menimpa kepada seseorang kecuali telah ditetapkan oleh Allah; (Apabila ia mati karena tha’un tersebut), maka ia dianggap mati syahid. (H.R al-Bukhari)
    عن ابي هريرة رضي الله عنه عن النبي ص.م. قال المطبون شهيد والمطعون شهيد (رواه البخارى)
    Orang yang sakit perut dan yang sakit sampar keduanya orang syahid. (HR. Bukhari)
    Beberapa hadis di atas, dengan metode al-jam’, dapat dipahami bahwa seseorang diharuskan berusaha sekuat tenaga untuk menghindar dari hal-hal yang menyebabkan terjangkitnya penyakit. Namun,   apabila   usaha   lahiriyah   itu   sudah   dilakukan   secara maksimal, ternyata terjangkiti juga, maka itu harus dimsadari bahwa semuanya berlaku atas takdir Tuhan. Dengan demikian, tidak akan ada kontradiktif antara takdir Tuhan dan hal-hal yang harus diikhtiarkan. (Hakim)
    Pendapat Ulama/Ahli
    Kandungan Makna
    Kata (ناقة الله) naqatu Allah/ unta Allah memberi isyarat bahwa unta tersebut berbeda dengan unta-unta yang lain. Ia adalah unta khusus yang diciptakan Allah SWT serta mempunyai fungsi khusus puka. Itu antara lain yang dikesankan oleh penamaannya dengan unta Allah, banyak riwayat tentang unta yang menjadi bukti kenabian dan kerasulan Shalih antara lain yang dikemukakan oleh Mutawalli Asy-Sya’rawi, bahwa kaum nabi Shalih menentang beliau mendatangkan bukti berupa unta dari satu batu karang. (Shihab) Apa yang mereka tuntut itu dipenuhi Allah dengan menciptakan seekor unta betina yang berbulu lebat dan hamil sepuluh bulan kemudian melahirkan. Kehadiran unta Allah itu sebagai mukjizat yang berkaitan dengan keahlian kaum Tsamud dalam memahat gunung, karena bukti kenabian yang berupa mukjizat selalu dikaitkan dengan sesuatu yang dianggap oleh kaum yang ditantang sebagai bidang keahliannya. Masyarakat Nabi Musa merasa diri mereka ahli dalam bidang sihir, yakni mengelabuhi mata sehingga terlihat sesuatu berubah dari satu keadaan ke keadaan yang lain. Karena itu maka mukjizat yang tampil bersama Nabi Musa adalah berubahnya tongkat menjadi ular yang sebenarnya. Masyarakat Arab memiliki keahlian dalam bidang sastra bahasa maka al-quran yang merupakan mukjizat Nabi Muhammad SAW mencapai puncak dalam bidang tersebut sekaligus ditantangkan kepada siapapun yang meragukannya. (Qurrotula'yuun)
    Pesan-Pesan Pendidikan
    Islam menjelasakan berbagai cara pencegahan penyakit menular, juga mncegah penyebarannya. Di antaranya adalah dengan karantina penyakit. Nabi Muhammad SAW bersabda: “Jauhkanlah dirimu sejauh satu atau dua tombak dari yang orang yang berpenyakit lepra”. Dan : “Larilah dari penderita lepra sebagaimana kamu lari dari harimau.” (HR. Bukhari)
    Islam juga mengajarkan prinsip-prinsip dasar pencegahan dan penanggulangan berbagai penyakit infeksi yang membahayakan masyarakat (misalnya wabah kolera dan cacar). Sesuai dengan sabda Rasulullah SAW: “Janganlah engkau masuk ke dalam suatu daerah yang sedang terjangkit wabah, dan bila dirimu berada di dalamnya janganlah pergi meninggalkannya.” (HR.Bukhari).
    Hal ini dimaksudkan agar wabah tersebut tidak menyebar ke daerah lain, karena apabila seseorang berada di daerah yang sedang terjangkit wabah maka kemungkinan besar  ia juga  telah  terserang  infeksi  yang dapat  ia tularkan  ke masyarakat sekitar.
    Islam sebagai agama yang sempurna telah menyiratkan konsep pencegahan penyakit dalam setiap amal ibadah yang disyariatkan dan dalam ayat- ayat yang tertuang dalam Alquran dan Assunah. Apabila manusia mengamalkan konsep tersebut maka ia akan terhindar dari berbagai macam penyakit. Dalam hadist, Rasulullah  bersabda  bahwa  beliau  tidaklah  makan  sebelum  lapar  dan berhenti sebelum kenyang. Kemudian beliau juga bersabda : “Seorang anak cucu Adam tidak pernah memenuhi satu bejana pun yang lebih jelek daripada perutnya. Cukuplah bagi seorang anak cucu Adam beberapa suap makanan yang dapat menegakkan punggungnya. Jika dia harus makan, hendaklah sepertiga (dariperutnya) untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk udara.”
    Apabila pola makan Rasul tersebut dapat diterapkan oleh manusia, maka tidak  akan  terjadi  penyakit-penyakit  degeneratif    yang  banyak  terjadi  pada manusia masa kini yang berlebih-lebihan dalam hal makan dan minum. Penyakit degeneratif  tersebut misalnya, diabetesmelitus  yang disebabkan oleh kelebihan asupan kalori yang tidak diimbangi dengan peningkatan kadar insulin sebagai penetralisirnya  atau penyakit-penyakit  kardiovaskular akibat kelebihan konsumsi lipid yang kemudian berakumulasi di dinding endotel pembuluh darah perifer dan pembuluh  darah  jantung   yang  menyebabkan  penyempitan pembuluh darah sehingga aliran darah terganggu dan di jantung menimbulkan manifestasi berupa penyakit jantung coroner.
    “Makan dan minumlah, tapi jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih- lebihan” (Al-A’raf: 31). Larangan Allah dalam surah tersebut mengandung hikmah dan pelajaran yang berharga. Secara medis, ternyata makan dan minum yang berlebihan bisa berdampak buruk  bagi kesehatan  karena dapat  menimbulkan berbagai macam penyakit  di dalam tubuh.  Penyakit  karena pola makan yang salah ini disebut penyakit  metabolik  yang dapat  diikuti dengan berbagai komplikasinya, seperti kencing manis, asamurat, hipertensi, dan penyakit-penyakit berbahaya lainnya.
    Dalam surat Hud terdapat beberapa analisis mengenai akhlak Nabi Shalih diantaranya:
    Pendidikan Tauhid
    Tak ada sesuatu apapun yang bisa dipandang serupa atau setara dengan-Nya. Segala pandangan yang mengisyaratkan penyekutuan Tuhan adalah kekeliruan yang nyata. Kebesaran dan keperkasaan-Nya tidaklah menyebabkan Tuhan bertindak sewenang-wenang, sekalipun kalau Dia mau tentu tidak aka nada yang bisa menghalangi-Nya.
    Pendidikan Alam Semesta
    Kembali pada kedudukan alam sebagai tanda-tanda kebesaran Allah. Allah berfirman dalam al-Qurabn bahwa ia akan menunjukkan tanda-tanda tersebut di jagat raya ini dan juga pada diri kita, manusia.
    Diantara makhluk Allah yang ada di alam semesta ini, memanusialah yang secara bilogis paling lengkap dan paling rumit. Pada dirinya terkandung semua unsur yang membentuk alam semesta, dari mulai unsur-unsur mineral, tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia itu sendiri, dengan masing-masing dayanya yang istimewa.
    Pendidikan Tasawuf
    Sejarah bangsa-bangsa Islam serta peradaban dan kebudayaan berasimilasi dengan agama yang ada pada bangsa-bangsa itu. Banyak faktor yang membantu pertumbuhan sufisme Islam, diantaranya adalah ajaran-ajaran Islam yang menyuruh untuk bekerja demi akhirat serta membersihkan badan dan jiwa. Bahasa al-quran dan hadis Nabi mendeskripsikan Tuhan sebagai Yang Maha Penyayang, Maha Pecinta dan Dia lebih dekat dengan urat nadi.
    Pendidikan Kenabian
    Ada dua golongan manusia yang diutus oleh Allah SWT untuk menyampaikan kebenaran-Nya kepada umat manusia lainnya di muka bumi. Pertamanabi, yaitu orang yang diutus oleh Allah kepada kaumnya untuk memberikan petunjuk kepada kebenaran. Kedua, rasul, yaitu orang yang diutus Allah dengan membawa kitab kepada kaumnya untuk menunjukkan jalan kebenaran.
    Nabi dapat dijadikan sebagai panutan dalam hidup dan kehidupan manusia. Menjalankan apa yang disuruhnya dan meninggalkan segala apa yang dilaranynya.
    Apa yang disampaikan oleh Nabi Shalih itu bertentangan dengan harapan kaumnya yang selama ini memandang beliau sebagai seorang yang dikenal baik cerdas dan penuh amanat. Betapa tidak, kaum Tsamud memandang aneh sikap Nabi Shalih yang sekarang memerintahkan mereka untuk menyembah Tuhan Yang Maha Esa dan tidak menyembah berhala seperti apa yang disembah oleh nenek moyang mereka. Kaum Tsamud tidak menikuti apa yang disampaikan oleh nabi Shalih kepada mereka, kaum Tsamud benar-benar ragu terhadap apa yang diserukan kepada mereka.

    KESIMPULAN
    Melalui pembahasan virus dan penyakit dalam al-quran, dapat diambil sebuah pemahaman bahwa virus dan penyakit pada mulanya diperkenalkan oleh al-quran sebagai bentuk azab dari Allah. Namun, dengan semakin majunya ilmu dan peradaban, manusia akhirnya mampu mengungkap, melalui kajian-kajian yang mendalam, bahwa  virus/penyakit itulah yang menjalar dan menularkan kepada yang lain. Ia bukanlah kutukan Tuhan atau dibawa oleh makhluk halus, tetapi dibuktikan secara ilmiah.
    Islam menjelaskan berbagai cara pencegahan penyakit menular, juga mencegah penyebarannya. Begitu  juga untuk penyebaran penyakit  yang tidak menular. Pembinaan  pola baku sikap dan perilaku sehat baik secara fisik, mental maupun sosial, pada dasarnya sudah bagian dari pembinaan kepribadian Islam itu sendiri. Dan islam juga mengatur  semua kebijakan  yang menyangkut tentang kesehatan umatnya. Kebijakan itu dibuat untuk menjadi pedoman agar umat-Nya dapat menjalani hidup dengan baik.
    Kita  bisa memberikan wacana tentang kesehatan  dari segi pandangan Islam. Contoh saja mengenai perilaku tidak sehat yaitu, merokok.Sempat terdengar heboh mengenai adanya fatwa  bahwa merokok itu  haram. Islam mengajarkan bahwa segala tindakan atau perilaku yang tentunya membahayakan diri sendiri ataupun orang lain itu dilarang.

    DAFTAR PUSTAKA

    Al-Zuhaili, Wahbah. al-Tafsir al-Munir. Beirut: Darul Fikr, 2009.
    Hakim, Husnul. "EPIDEMI DALAM ALQURAN (SUATU KAJIAN TAFSIR MAUDHU’I DENGAN CORAK ILMI) ." KORDINAT (2018): 118-119.
    Qurrotula'yuun. SKRIPSI: NILAI-NILAI PENDIDIKAN AKHLAK NABI SHALIH DALAM PENDIDIKAN ISLAM (KAJIAN TERHADAPA TAFSIR AL-MISHBAH SURAT HUD AYAT 61-68). Ponorogo: IAIN Ponorogo, 2017.
    Quthb, Sayyid. Fi Zhilalil Quran. Jakarta: Gema Isani Press, 2001.
    Ramli, Ahmad. Peraturan-peraturan untuk Memelihara Kesehatan dalam Hukum Syara' Islam. Jakarta: Balai Pustaka, 1968.
    Shihab, M. Quraish. Tafsir al-Misbah Pesan Kesan dan Keserasian al-Quran. Jakarta: Lentera Hati, 2000.

    0 komentar

  • Copyright © - Nisekoi - All Right Reserved

    Muthi'ah Suronoto Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan